shidiq

seseorang yang berusaha untuk hidup

pemikiran 5 menit baca

Sebuah tulisan singkat untuk mitos Sisyphus

Beberapa hari yang lalu saya baru menyelesaikan buku mitos Sisyphus yang ditulis oleh Albert Camus.

Membaca buku ini adalah salah satu buku yang sangat sulit sekali untuk dipahami.

Membutuhkan waktu satu bulan untuk menyelesaikannya.

Saya berpikir, untuk membuat sebuah tulisan singkat untuk merangkum buku ini.

Dan juga pesan dari seorang teman untuk membuatnya.

Meskipun saya tidak cukup yakin apakah tulisan saya ini akan sesuai dengan isinya.

Dengan apa yang dibayangkan oleh Camus.

Sebuah penyataan dari Albert Camus

Albert Camus memulai buku ini dengan sebuah pernyataan.

“There is but one truly serious philosophical problem and that is suicide.”

“Ada satu masalah filosofis yang sangat serius, yaitu bunuh diri.”

Sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan.

Dengan pernyataan itu, Camus ingin menyampaikan bahwa agar filsafat kembali ke pertanyaan yang paling mendasar.

Apakah hidup ini layak untuk dijalani atau tidak?

Semua permasalahan metafisika, teologi, dan etika menjadi masalah sekunder jika dibandingkan dengan pertanyaan itu.

Camus ingin bertanya, untuk apa hidup ini dijalani?

Maksud dari absurd

Camus memperkenalkan istilah absurd.

Absurd disini bukanlah sesuatu yang kacau atau tidak masuk akal.

Tetapi absurd adalah sebuah pertentangan antara manusia yang ingin mencari makna dan kejelasan di dunia ini.

Dan dunia yang tidak memberikan jawaban.

Lahirnya absurd adalah ketika manusia menyadari pertanyaan yang diajukan tidak akan pernah mendapatkan jawaban.

Ia lahir dari keseharian, rutinitas yang terasa hampa, dunia yang terasa asing, dan kesadaran akan kematian.

Rasio dapat menjawab bagaimana cara kerja dunia, tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa dunia ini ada.

Absurditas adalah bentuk kesadaran manusia bahwa hidup ini tidak memiliki makna yang objektif.

Dua bentuk pelarian

Jika hidup memang tidak memiliki makna, apakah bunuh diri menjadi solusi?

Camus menolak bunuh diri. Karena bunuh diri hanyalah bentuk pelarian dari absurditas.

Ia membaginya menjadi 2 bentuk.

Bunuh diri fisik

Pertama adalah bunuh diri fisik. Yaitu mengakhiri hidup secara langsung. Ini terlihat seperti solusi yang paling logis. Jika hidup tidak bermakna, maka tidak ada alasan untuk menjalaninya.

Namun, Camus menolak bunuh diri fisik. Karena bunuh diri fisik adalah bentuk pelarian dari absurditas.

Hanya menghapuskan salah satu pihak dalam konflik. Yaitu menghapuskan manusia.

Absurditas memang akan hilang, bukan karena terselesaikan tetapi hanya terhindari.

Absurditas akan tetap ada selama manusia masih hidup.

Maka dari itu, bunuh diri fisik bukanlah solusi.

Bunuh diri filosofis

Kedua, adalah bunuh diri filosofis. Yaitu melarikan diri dari absurditas dengan cara melompat ke dalam iman, agama, atau ideologi yang memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa hidup ini ada.

Dalam bentuk ini, manusia menghilangkan absurditas dengan cara percaya bahwa dibalik dunia yang sunyi ini, ada sesuatu yang makna yang tersembunyi.

Bagi Camus, ini adalah sama bentuk perlarian. Ia menganggap bahwa bunuh diri filosofis sama bermasalahnya dengan bunuh diri fisik.

Karena keduanya menolak hidup dalam absurditas.

3 tokoh absurd

Jika bunuh diri fisik dan filosofis ditolak. Maka bagaimana cara hidup dalam absurditas?

Camus memperkenalkan 3 tokoh yang menjadi representasi dari absurditas.

Don Juan

Don Juan bukan sekadar perayu, melainkan simbol manusia yang hidup dalam intensitas. Ia tidak mencari cinta abadi atau makna kekal, tetapi menghayati sebanyak mungkin pengalaman dalam waktu terbatas. Ia tahu bahwa tidak ada cinta yang menyelamatkan maka ia memilih banyak cinta, bukan satu makna.

Aktor

Aktor adalah manusia yang menjalani banyak kehidupan dalam satu tubuh. Ia sadar bahwa semua peran sementara, semua identitas palsu, dan tidak ada diri sejati yang abadi. Namun justru karena itu ia hidup lebih padat daripada manusia biasa.

Penakluk

Penakluk atau pemberontak adalah manusia tindakan. Ia tidak menunggu jawaban metafisik, tetapi menciptakan arti lewat perbuatan, meskipun tahu semua hasilnya akan lenyap.

Ketiga tokoh ini adalah representasi dari absurditas. Mereka sadar hidup dalam absurditas, tetapi mereka tidak menyerah akan absurditas dan hidup secara penuh.

Bahwa hidup ini tidak memiliki makna absolut bukan berarti hidup tanpa nilai.

Menjadi Sisyphus

Semua argumen Camus berpuncak pada tokoh Sisyphus. Dalam mitologi Yunani, Sisyphus dikutuk untuk mendorong batu ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali, selamanya. Tidak ada hasil, tidak ada akhir, tidak ada pembebasan.

Camus menafsirkan Sisyphus sebagai gambaran manusia modern.

Hidup manusia, seperti tugas Sisyphus.

Namun perbedaannya terletak pada kesadaran.

Ketika Sisyphus sadar sepenuhnya akan nasibnya dan tetap melakukannya, ia tidak lagi menjadi korban, melainkan tuan atas penderitaannya sendiri.

Karena itu Camus menulis kalimat yang terkenal

“One must imagine Sisyphus happy.”

“Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia.”

Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia. Bukan karena hidupnya bermakna, tetapi karena ia menerima hidup tanpa ilusi. Di dalam kesadaran itulah terletak kebebasan dan martabat manusia.

Penutup singkat

Buku ini mengajarkan bahwa hidup tidak memiliki makna absolut. Namun bukan berarti hidup tanpa nilai.

Nilai tidak ditemukan, melainkan dijalani. Bukan diberikan oleh dunia, melainkan diciptakan lewat kesadaran manusia yang tetap memilih hidup, meskipun tahu bahwa dunia tidak memberikan jawaban.

Dalam absurditas, pilihan paling jujur bukanlah melarikan diri, melainkan tetap tinggal. Tetap bekerja, tetap mencinta, tetap berjalan tanpa ilusi bahwa semua itu akan berujung pada makna terakhir.

Dalam A Happy Death, Camus menulis:

“Should I kill myself or have a cup of coffee?”

“Apakah aku harus bunuh diri atau minum secangkir kopi?”

Pertanyaan ini terdengar ringan, sperti sebuah candaan. Namun di dalamnya tersimpan sikap filosofis yang sangat serius.

Bukan memilih mati karena hidup tak bermakna, melainkan memilih tetap hidup melalui tindakan yang paling sederhana.

Dan pada akhirnya, sikap itu mencapai bentuk paling jernih dalam sosok Sisyphus:

“The struggle itself toward the heights is enough to fill a man’s heart. One must imagine Sisyphus happy.”

“Perjuangan itu sendiri menuju puncak sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia.”

© 2026 Shidiq. All rights reserved.